Di jantung kota Jember, berdiri kokoh sebuah patung yang menjadi pengingat abadi akan keberanian dan pengorbanan. Sosok itu adalah Letnan Kolonel Mochammad Sroedji, seorang komandan yang namanya terpatri dalam sanubari rakyat sebagai salah satu pahlawan terbesar yang pernah dimiliki tanah Tapal Kuda. Ini adalah kisah Letkol Mochammad Sroedji, sebuah narasi tentang kepemimpinan, perjuangan tanpa pamrih, dan warisan yang terus hidup melampaui zaman.
Bagi masyarakat Jember, nama M. Sroedji bukan sekadar nama jalan atau universitas. Ia adalah simbol perlawanan gigih terhadap agresi militer Belanda yang mencoba merebut kembali kemerdekaan Indonesia. Kepemimpinannya yang tegas namun merakyat membuatnya begitu dicintai oleh anak buah dan disegani oleh lawan.

Awal Mula Perjuangan Sang Komandan
Lahir di Bangkalan, Madura, Mochammad Sroedji meniti karier militernya dengan bergabung dalam Pembela Tanah Air (PETA) pada masa pendudukan Jepang. Di sinilah mental dan disiplin militernya ditempa. Setelah proklamasi kemerdekaan, Sroedji dengan sigap mendedikasikan dirinya untuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR), cikal bakal Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Keahliannya dalam strategi dan kepemimpinan membuatnya cepat menonjol. Puncak kariernya di medan perang dimulai ketika ia ditugaskan untuk memimpin Brigade III Damarwulan, bagian dari Divisi VII Untung Suropati, yang wilayah operasinya mencakup Karesidenan Besuki, termasuk Jember, Bondowoso, dan Banyuwangi. Tugasnya amat berat: mempertahankan setiap jengkal tanah dari cengkeraman Agresi Militer Belanda I dan II.
Memimpin Brigade Damarwulan di Jantung Pertahanan Jember
Di bawah komandonya, Brigade Damarwulan menjadi salah satu unit paling solid dan berani. Kisah Letkol Mochammad Sroedji sebagai seorang komandan adalah cerita tentang bagaimana ia mengubah para pejuang muda menjadi tentara yang disiplin dan efektif. Ia dikenal sebagai pemimpin yang sering turun langsung ke garis depan, memberikan semangat dan motivasi kepada pasukannya di tengah keterbatasan senjata dan logistik.
Ia menerapkan taktik perang gerilya yang cerdas, memanfaatkan keunggulan penguasaan medan yang dimiliki oleh para pejuang lokal. Serangan-serangan mendadak yang dilancarkan pasukannya di malam hari sering kali membuat pasukan Belanda kalang kabut. Markas-markas pertahanannya yang berpindah-pindah di lereng Gunung Argopuro menjadi basis operasi yang sulit ditembus lawan. Baginya, Jember bukan hanya wilayah teritorial, melainkan harga diri bangsa yang harus dipertahankan hingga titik darah penghabisan.
Pertempuran Karang Kedawung: Pengorbanan Terakhir
Pada 8 Februari 1949, takdir heroik menjemput Sang Komandan. Peristiwa yang dikenal sebagai Palagan Karang Kedawung menjadi saksi bisu pengorbanan terbesarnya. Kala itu, Letkol M. Sroedji bersama segelintir pasukannya terkepung oleh pasukan Belanda di Desa Karang Kedawung, Kecamatan Mumbulsari, Jember. Yayasan Jember Panti Asuhan Attafakur
Meski kalah jumlah dan persenjataan, semangat perlawanan mereka tidak pernah padam. Dalam posisi terjepit, Letkol Sroedji menolak untuk menyerah. Ia terus memimpin pertempuran dari garis terdepan, memberikan contoh keberanian mutlak kepada anak buahnya. Di tengah desing peluru, ia gugur sebagai kusuma bangsa, memegang teguh sumpahnya untuk mempertahankan kemerdekaan. Jenazahnya, bersama para pejuang lain yang gugur, baru ditemukan beberapa hari kemudian dan dimakamkan dengan upacara militer di Taman Makam Pahlawan Patrang, Jember.

Warisan yang Tak Lekang oleh Waktu
Wafatnya Letkol M. Sroedji tidak menyurutkan perlawanan, justru membakar semangat juang para pejuang lainnya untuk meneruskan cita-citanya. Namanya menjadi legenda, sebuah simbol kepahlawanan yang abadi. Sebagai bentuk penghormatan tertinggi, masyarakat dan pemerintah mengabadikan namanya dalam berbagai bentuk.
Nama beliau diabadikan sebagai nama salah satu perguruan tinggi negeri terkemuka, Universitas Mochammad Sroedji Jember (yang kini menjadi bagian dari Universitas Jember). Nama jalan utama di beberapa kota di Karesidenan Besuki juga menggunakan namanya. Monumen dan patungnya berdiri gagah di lokasi-lokasi strategis di Jember, berfungsi sebagai pengingat konstan bagi generasi muda tentang harga sebuah kemerdekaan.
Baca Artikel Lainnya : Merayakan Kebahagiaan dan Harapan di Hari Anak Yatim 1447 H LKSA Attafakur Putri
Kisah Letkol Mochammad Sroedji adalah bukti nyata bahwa pahlawan sejati tidak pernah benar-benar mati. Mereka mungkin telah gugur di medan perang, tetapi semangat, nilai-nilai, dan pengorbanan mereka akan terus hidup di dalam hati dan ingatan kolektif rakyat yang mereka bela. Beliau adalah komandan legendaris Jember, pahlawan kebanggaan bangsa.





